PENGUATAN PEMAHAMAN
KURIKULUM 2013
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
HANDOUT PENDAMPINGAN
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMK
TAHUN 2015
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2015
I. PEMAHAMAN KOMPETENSI
A. Konsep
1. Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) pada pendidikan SMK adalah kriteria mengenai
kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang diharapkan dapat dicapai setelah peserta didik menyelesaikan
masa belajar.SKL
merupakan acuan utama dalam pengembangan Kompetensi Inti (KI), selanjutnya
Kompetensi Inti dijabarkan ke dalam Kompetensi Dasar (KD).
2. Kompetensi Inti merupakan tingkat
kemampuan untuk mencapai SKL yang harus dimiliki seorang peserta didik pada
setiap tingkat kelas atau program yang menjadi dasar pengembangan KD. KI
mencakup: sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang
berfungsi sebagai pengintegrasi muatan pembelajaran, mata pelajaran atau
program dalam mencapai SKL.
3. Kompetensi Dasar adalah kemampuan
yang menjadi syarat untuk menguasai Kompetensi Inti yang harus diperoleh
peserta didik melalui proses pembelajaran. Kompetensi Dasar merupakan tingkat
kemampuan dalam konteks muatan pembelajaran serta perkembangan belajar yang
mengacu pada Kompetensi Inti dan
dikembangkan berdasarkan taksonomi hasil belajar.
4. Taksonomi dimaknai sebagai
seperangkat prinsip klasifikasi atau struktur dan kategori ranah kemampuan
tentang perilaku peserta didik yang terbagi ke dalam ranah sikap, pengetahuan
dan keterampilan. Pembagian ranah perilaku belajar dilakukan untuk mengukur
perubahan perilaku seseorang selama proses pembelajaran sampai pada pencapaian
hasil belajar, dirumuskan dalam perilaku (behaviour)
dan terdapat pada indikator pencapaian kompetensi.
B. Deskripsi
1. Hasil
belajar dirumuskan dalam tiga kelompok ranah taksonomi meliputi ranah sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Pembagian taksonomi hasil belajar ini dilakukan
untuk mengukur perubahan perilaku peserta didik selama proses belajar sampai
pada pencapaian hasil belajar yang dirumuskan dalam aspek perilaku (behaviour) tujuan pembelajaran.Umumnya klasifikasi perilaku hasil belajar yang
digunakan berdasarkan taksonomi
Bloom yang pada Kurikulum 2013 yang telah disempurnakan oleh Anderson dan Krathwohl dengan pengelompokan menjadi : (1) Sikap
(affective)merupakan perilaku, emosi
dan perasaan dalam bersikap dan merasa, (2) Pengetahuan (cognitive) merupakan kapabilitas
intelektual dalam bentuk pengetahuan atau berpikir, (3) Keterampilan
(psychomotor)merupakan keterampilan
manual atau motorik dalam bentuk melakukan.
a.
Ranah sikap dalam Kurikulum 2013 merupakan urutan
pertama dalam perumusan kompetensi lulusan, selanjutnya diikuti dengan rumusan
ranah pengetahuan dan keterampilan. Ranah sikap dalam Kurikulum 2013
menggunakan olahan Krathwohl,dimana
pembentukan sikap peserta didik ditata secara hirarkhis mulai dari menerima (accepting), menjalankan (responding), menghargai (valuing), menghayati (organizing/internalizing), dan
mengamalkan (characterizing/actualizing).
b.
Ranah pengetahuan pada
Kurikulum 2013 menggunakan taksonomi Bloom olahan Anderson, dimana perkembangan kemampuan
mental (intelektual) peserta didik dimulai dari C1 yakni mengingat (remember);
peserta didik mengingat kembali pengetahuan dari memorinya. Tahapan
perkembangan selanjutnya C2 yakni memahami (understand); merupakan kemampuan mengonstruksi makna dari pesan pembelajaran baik
secara lisan, tulisan maupun grafik. Lebih lanjut tahap C3 yakni menerapkan (apply);
merupakan penggunaan prosedur dalam situasi yang diberikan atau situasi baru.
Tahap lebih lanjut C4 yakni menganalisis (analyse); merupakan penguraian materi kedalam bagian-bagian dan bagaimana
bagian-bagian tersebut saling berhubungan satu sama lainnya dalam keseluruhan
struktur. Tingkatan taksonomi pengetahuan selanjutnya C5 yakni mengevaluasi (evaluate);
merupakan kemampuan membuat keputusan berdasarkan kriteria dan standar.
Kemampuan tertinggi adalah C6 yakni mengkreasi (create); merupakan kemampuan
menempatkan elemen-elemen secara bersamaan ke dalam bentuk modifikasi atau
mengorganisasikan elemen-elemen ke dalam pola baru (struktur baru).
c.
Ranah keterampilan pada
Kurikulum 2013 yang mengarah pada pembentukan keterampilan abstrak menggunakan
gradasi dari Dyers yang ditata sebagai berikut: mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (experimenting), menalar (associating), menyaji (communicating), dan mencipta (creating). Adapun keterampilan kongkret
menggunakan gradasi olahan Simpson dengan tingkatan:persepsi, kesiapan,
meniru, membiasakan gerakan, mahir, menjadi gerakan alami, dan menjadi gerakan
orisinal.
Tabel 1. Perkembangan Keterampilan Simpson dan Dave
|
NO
|
Tingkat Taksonomi Simpson
|
Uraian
|
Tingkatan Taksonomi Dave
|
Uraian
|
Tingkat Kompetensi Minimal/Kelas
|
|
1.
|
·
Persepsi
·
Kesiapan
·
Meniru
|
·
Menunjukkan perhatian untuk melakukan suatu gerakan.
·
Menunjukkan kesiapan mental dan fisik untuk melakukan suatu gerakan.
·
Meniru gerakan secara terbimbing.
|
Imitasi
|
Meniru kegiatan yang telah didemonstra-sikan atau dijelaskan, meliputi tahap coba-coba hingga mencapairespon
yang tepat.
|
V/Kelas X
|
|
2.
|
Membiasakan gerakan (mechanism)
|
Melakukan gerakan
mekanistik.
|
Manipulasi
|
Melakukan suatu pekerjaan
dengan sedikit percaya dan kemampuan melalui perintah dan berlatih.
|
V/KelasXI
|
|
3.
|
Mahir (complex or overt response)
|
Melakukan gerakan kompleks
dan termodifikasi.
|
Presisi
|
Melakukan suatu tugas atau
aktivitas dengan keahlian dan kualitas yang tinggi dengan unjuk kerja yang
cepat, halus, dan akurat serta efisien tanpa bantuan atau instruksi.
|
|
|
4.
|
Menjadi gerakan alami (adaptation)
|
Menjadi gerakan alami yang
diciptakan sendiri atas dasar gerakan yang sudah dikuasai sebelumnya.
|
Artikulasi
|
Keterampilan berkembang
dengan baik sehingga seseorang dapat mengubah pola gerakan sesuai dengan
persyaratan khusus untuk dapat digunakan mengatasisituasi problem yang tidak
sesuai SOP.
|
|
|
5.
|
Menjadi tindakan orisinal (origination)
|
Menjadi gerakan baru yang
orisinal dan sukar ditiru oleh orang lain dan menjadi ciri khasnya.
|
Naturalisasi
|
Melakukan unjuk kerja
level tinggi secara alamiah, tanpa perlu berpikir lama dengan mengkreasi
langkah kerja baru.
|
Catatan:pada lampiran
Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014, taksonomi olahan Dave tidak dicantumkan tetapi dapat digunakan
sebagai pengayaan, karena cukup familier digunakan di lingkunganpendidikan kejuruan.
2. SKL adalah profil kompetensi
lulusan yang akan dicapai oleh peserta didik setelah mempelajari semua
mata pelajaran pada jenjang tertentu yang mencakup ranah sikap, pengetahuan,
dan keterampilan.
3. Kompetensi
Inti merupakan tangga pertama pencapaian yang dituju semua mata pelajaran pada
tingkat kelas tertentu. Penjabaran kompetensi inti
untuk tiap mata pelajaran dirinci dalam rumusan Kompetensi Dasar. Kompetensi
lulusan, kompetensi inti, dan kompetensi dasar dicapai melalui proses
pembelajaran dan penilaian yang dapat diilustrasikan dengan skema berikut.
Gambar 1.Skema Hubungan SKL, K-I, KD, Penilaian dan Hasil
Belajar
Rumusan
standar kompetensi lulusan yang tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 untuk tingkat SMK/MAK adalah sebagai berikut.
Tabel
2. Standar Kompetensi Lulusan SMK/MAK
|
Dimensi
|
Kualifikasi
Kemampuan
|
|
Sikap
|
Memiliki
perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya
diri, dan bertanggung-jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia.
|
|
Pengetahuan
|
Memiliki
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena
dan kejadian.
|
|
Keterampilan
|
Memiliki
kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan
konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.
|
4. Penguasaan kompetensi lulusan
dikelompokkan menjadi beberapa Tingkat Kompetensi.Tingkat Kompetensi merupakan kriteria
capaian Kompetensi yang bersifat generik yang harus dipenuhi oleh peserta didik
pada setiap tingkat kelas dalam rangka pencapaian Standar Kompetensi Lulusan.
Tingkat Kompetensi terdiri atas 8 (delapan) jenjang yang harus dicapai oleh
peserta didik secara bertahap dan berkesinambungan.
Tabel 3. Tingkat Kompetensi
|
NO
|
TINGKAT
KOMPETENSI |
TINGKATKELAS
|
|
1.
|
Tingkat 0
|
TK/
RA
|
|
2.
|
Tingkat 1
|
Kelas
I SD/MI/SDLB/PAKET A Kelas II SD/MI/SDLB/PAKET A
|
|
3.
|
Tingkat 2
|
Kelas III
SD/MI/SDLB/PAKET A
Kelas IV SD/MI/SDLB/PAKET A |
|
4.
|
Tingkat 3
|
Kelas
V SD/MI/SDLB/PAKET A Kelas VI SD/MI/SDLB/PAKET A
|
|
5.
|
Tingkat 4
|
Kelas
VII SMP/MTs/SMPLB/PAKET B Kelas VIII SMP/MTs/SMPLB/PAKET B
|
|
6.
|
Tingkat 4A
|
Kelas
IX SMP/MTs/SMPLB/PAKET B
|
|
7.
|
Tingkat 5
|
Kelas
X SMA/MA/SMALB/SMK/MAK/ PAKET C/PAKET C KEJURUAN
Kelas
XI SMA/MA/SMALB/SMK/MAK/ PAKET C/PAKET C KEJURUAN
|
|
8.
|
Tingkat 6
|
Kelas
XII SMA/MA/SMALB/SMK/MAK/ PAKET C/PAKET C KEJURUAN
|
Sumber : Permendikbud No. 64 Tahun 2013
tentang Standar Isi.
5. Kompetensi Inti SMK/MAK sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor
60 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 SMK/MAK sebagai berikut.
Tabel 4. Kompetensi
Inti SMK/MAK
|
KOMPETENSI INTI
KELAS X
|
KOMPETENSI INTI
KELAS XI
|
KOMPETENSI INTI
KELAS XII
|
|
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya.
|
1.
Menghayati dan mengamalkan ajaran
agama yang dianutnya.
|
1.
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya.
|
|
2. Menghayati dan
mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja
sama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap
sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
|
2.
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli
(gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif
dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta
dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
|
2. Menghayati dan
mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja
sama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap
sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
|
|
3.
Memahami, menerapkan dan menganalisispengetahuan faktual,
konseptual, dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena
dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah.
|
3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan
rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk
memecahkan masalah.
|
3. Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan
metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk
memecahkan masalah.
|
|
4.
Mengolah, menalar, dan menyaji
dalam ranah konkret dan ranah abstrakterkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu melaksanakan tugas
spesifik di bawah pengawasan langsung.
|
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu melaksanakan tugas
spesifik di bawah pengawasan langsung.
|
4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah
abstrakterkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.
|
6. Kompetensi Inti pada ranah sikap (KI-1 dan KI-2) merupakan kombinasi reaksi
afektif, kognitif, dan konatif (perilaku). Gradasi kompetensi sikap meliputi
menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan.
Gambar 2. Gradasi dan Taksonomi Ranah Sikap
7. Kompetensi Inti pada
ranah pengetahuan (KI-3) memiliki dua dimensi dengan batasan-batasan yang telah
ditentukan pada setiap tingkatnya.
a. Dimensi
pertama adalah dimensi perkembangan kognitifpeserta didik:
Pada kelas X dan kelas XI dimulai dari memahami (C2),
menerapkan (C3) dan kemampuan menganalisis (C4), untuk kelas XII ditambah
hingga kemampuan evaluasi (C5).
b. Dimensi
kedua adalah dimensi pengetahuan (knowledge):
Pada kelas X berupa pengetahuan faktual, konseptual, dan
prosedural, sedangkan untuk kelas XI dan XII dilanjutkan sampai metakognitif.
Gambar 3. Dimensi pada Kompetensi Inti Pengetahuan
·
Pengetahuan
faktual yakni pengetahuan terminologi atau pengetahuan detail
yang spesifik dan elemen.Contoh fakta bisa berupa kejadian atau peristiwa yang
dapat dilihat, didengar, dibaca, atau diraba.
Seperti Engine mobil hidup, lampu menyala, rem yang pakem/blong.Contoh
lain: power supply pada peralatan Telekomunikasi.
·
Pengetahuan
konseptual merupakan pengetahuan yang lebih kompleks berbentuk
klasifikasi, kategori, prinsip dan generalisasi. Contohnya fungsi kunci kontak
pada Engine mobil,prinsip kerja starter, prinsip kerja lampu, prinsip kerja rem.Contoh
lain: Prinsip kerja power supply pada peralatan Telekomunikasi.
·
Pengetahuan
prosedural merupakanpengetahuan bagaimana melakukan sesuatu
termasuk pengetahuan keterampilan, algoritma (urutan langkah-langkah logis pada
penyelesaian masalah yang disusun secara sistematis), teknik, dan metoda
seperti prosedur pengoperasian peralatan telekomunikasi yang benar.
·
Pengetahuan
metakognitif yaitu pengetahuan tentang kognisi (mengetahui dan
memahami) yang merupakan tindakan atas dasar suatu pemahaman meliputi kesadaran
dan pengendalian berpikir, serta penetapan keputusan tentang sesuatu. Sebagai
contoh prediksi perancangan pembuatan peralatan telekomunikasi.
8.
Kompetensi
Inti pada ranah keterampilan (KI-4) mengandung keterampilan abstrak dan
keterampilan kongkret. Keterampilan abstrak lebih bersifat mental skill, yang cenderung merujuk pada keterampilan menyaji,
mengolah, menalar, dan mencipta dengan dominan pada kemampuan
mental/keterampilan berpikir. Sedangkan keterampilan kongkret lebih bersifat
fisik motorik yang cenderung merujuk pada kemampuan menggunakan alat, dimulai
dari persepsi, kesiapan, meniru, membiasakan
gerakan mahir, menjadi gerakan alami, menjadi tindakan orisinal.
Gambar 4. Dimensi Kompetensi
Keterampilan
9. Kompetensi Inti sikap
religius dan sosial (KI-1 dan KI-2) memberi arah tentang tingkat kompetensi
sikap yang harus dimiliki oleh peserta didik, dibentuk melalui pembelajaran
KI-3 dan KI-4.
10. Kompetensi
Inti pengetahuan dan keterampilan (KI-3 dan KI-4) memberi arah tentang tingkat
kompetensi pengetahuan dan keterampilan minimal yang harus dicapai peserta
didik.
11. Kompetensi
Dasar dari KI-3 merupakan dasar pengembangan materi pembelajaran pengetahuan,
sedangkan Kompetensi Dasar dari KI-4 berisi keterampilan dan pengalaman belajar
yang perlu dilakukan peserta didik. Berdasarkan KD dari KI-3 dan KI-4, pendidik
dapat mengembangkan proses pembelajaran dan cara penilaian yang diperlukan
untuk mencapai tujuan pembelajaran langsung, sekaligus memberikan dampak
pengiring (nurturant effect) terhadap
pencapaian tujuan pembelajaran tidak langsung yaitu KI-1 dan KI-2.
Melalui proses dan pengalaman belajar yang dirancang dengan baik,
peserta didik akan memperoleh pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) berupa pengembangan sikap spiritual dan sosial
yang relevan dengan Kompetensi Dasar dari KI-1 dan KI-2.
12. Agar menjamin terjadinya keterkaitan
antara SKL, KI, KD, materi pembelajaran, proses pembelajaran, serta penilaian
perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
a. Melakukan
linierisasi KD dari KI-3 dan KD dari KI-4;
b. Mengembangkan
materi pembelajaran yang tertuang pada buku teks sesuai KD dari KI-3;
c. Mengidentifikasi
keterampilan yang perlu dikembangkan sesuai rumusan KD dari KI-4;
d. Mengembangkan
kegiatan pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran dan keterampilan yang
harus dicapai;
e. Mengidentifikasi
sikap-sikap yang dapat dikembangkan dalam kegiatan yang dilakukan mengacu pada
rumusan KD dari KI-1 dan KI- 2, dan
f. Menentukan
cara penilaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang relevan.
C. Contoh
Fokus pertama bagi guru dalam
menyiapkan pembelajaran adalah melakukan analisis pada ketiga standar
kompetensi yaitu SKL, KI, KD. Dari hasil analisis itu
akan diperoleh jabaran tentang taksonomi dan gradasi hasil belajar yang
berhubungan dengan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan penilaian
yang diperlukan. Tabel 4 berikut adalah contoh analisis dimaksud.
Tabel 5.
Analisis Keterkaitan Ranah Antara SKL, KI,
dan KD
untuk Mapel Simulasi Digital
|
Standar Kompetensi
Lulusan (SKL)
|
Kompetensi
IntiKelas X
|
Kompetensi
Dasar
|
Analisis dan Rekomendasi
*)
|
|
|
Ranah
|
Kualifikasi Kemampuan
|
|||
|
Sikap
|
Memiliki perilaku
yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya
diri, dan bertanggung-jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia.
|
1.
Menghayati dan
mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
|
1.1
Memahami
nilai-nilai keimanan denganmenyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas
alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya.
1.2
Mendeskripsikan
kebesaran Tuhan yang menciptakan berbagai sumber energi di alam.
1.3
Mengamalkan
nilai-nilai keimanan sesuai dengan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
|
KD 1.1 Memahami
nilai-nilai keimanan berada pada gradasi(menerima) taksonomi Krathwohl
(S1)belum sesuaidengan tuntutan KI-1.
Rekomendasi:
Rekomendasi:
diperbaiki pada perumusan tujuan yang diikatkan pada KI 2 sebagai refleksi KI
1
KD 1.2 Mendeskripsikan
kebesaran Tuhan, berada pada gradasi(menerima) taksonomi Krathwohl (S1) belum
sesuai dengan tuntutan KI-1.
KD 1.3 Mengamalkan
nilai-nilai keimanan, berada pada gradasi(mengamalkan) taksonomi Krathwohl
(S5) sesuaituntutan KI-1.
|
|
2.
Menghayati dan
mengamalkan perilaku jujur, disiplin,tanggung jawab,peduli (gotong royong,
kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktifdan
menunjukkansikap sebagai bagian dari solusi atasberbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
|
2.1.
Menunjukkan
perilaku ilmiah (memilikirasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat;
tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan
peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi
sikap dalam melakukan percobaan dan berdiskusi.
2.2.
Menghargai kerja
individu dan kelompokdalam aktivitas sehari-hari sebagaiwujud implementasi
melaksanakan percobaan dan melaporkan hasil percobaan.
|
KD 2.1 Menunjukkan
perilaku ilmiah berada pada gradasi(mengamalkan) taksonomi Krathwohl (S5)
sesuai tuntutan KI-2.
KD 2.2 Menghargai
kerja individu dan kelompok berada padagradasi (mengamalkan) taksonomi
Krathwohl (S5) sesuai dengan tuntutan KI-2.
|
||
|
Pengetahuan
|
Memiliki pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan
budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab
serta dampak fenomena dan kejadian.
|
3.
Memahami, menerapkan
dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural berdasarkan
rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk
memecahkan masalah.
|
3.2 Menerapkan pengetahuan
pengelolaan informasi digital melalui
pemanfaatan komunikasi daring (online).
Ditulis lengkap seluruh KD.
|
KD 3.2 menerapkan
(C3) termasuk pengetahuan (kognitif) berada pada taksonomi Bloom level
mengaplikasikan.
KD 3.1 sd KD
3.7 belum mencapai tingkat analisis C4 sesuai tuntutan KI-3.
Rekomendasi:
Kemampuan analisis (C-4) akan ditingkatkan pada
KD.3.4 indikator RPPpengelolaan informasi digital merupakan bentuk
pengetahuan.
|
|
Keterampilan
|
Memiliki kemampuan pikir dan
tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai
pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.
|
4.
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.
|
4.2 Menyajikan hasil penerapan pengelolaan informasi
digital melalui komunikasi daring (online).
|
KD 4.2 menyajikan termasuk keterampilan konkret.
KD. 4.2 menyajikan setara dengan gradasi membiasakan gerakan (Simpson)
atau manipulasi (Dave)
|
*) Diisi dengan taksonomi dan gradasi hasil
belajar, jika KD tidak terkait dengan KI maka dikembangkan melalui tujuan
pembelajaran dan atau indikator pencapaian kompetensi.
*) Hasil analisis digunakan untuk mengerjakan
pemaduan model pembelajaran dan pendekatan saintifik.
*) Analisis dilakukan pada
tingkat mata pelajaran.
Keterangan:
1. SKL
dikutip dari Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar
Kompetensi Lulusan.
2. Kompetensi
Inti dan Kompetensi Dasar dikutip dari PermendikbudNomor 60 Tahun 2014 tentang Kurikulum
SMK/MAK dan lampirannya.
3. Analisis
diisi dengan hasil analisis taksonomi dan gradasi hasil belajar. Jika KD tidak
terkait dengan KI maka dikembangkan melalui tujuan pembelajaran dan atau
indikator pencapaian kompetensi.
D. Latihan
Buatlah analisis keterkaitan SKL, KI, dan KD untuk
mata pelajaran yang Saudara ampu.
II.
PEMAHAMAN MATERI
A. Konsep
Materi pembelajaran adalah
bagian dari isi rumusan Kompetensi Dasar (KD), merupakan muatan dari pengalaman
belajar yang diinteraksikan di antara peserta didik dan lingkungannya
untuk mencapai kemampuan dasar berupa perubahan perilaku sebagai hasil belajar
dari mata pelajaran.
B. Deskripsi
Materi pembelajaran dikembangkan
dari Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) sesuai dengan tuntutan KD dari KI-3
(Pengetahuan) dan KD dari KI-4 (Keterampilan), dimana IPK merupakan jabaran
dari KD teranalisis, dan materi pembelajaran disesuaikan dengan silabus atau
buku teks.
Pengembangan materi pembelajaran
mempertimbangkan hal-hal berikut.
·
Potensi peserta didik
·
Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan
lingkungan.
·
Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional,
social dan spiritual peserta didik.
·
Kebermanfaatan bagi peserta didik.
·
Struktur keilmuan.
·
Alokasi waktu.
Contoh ruang lingkup materi mata
pelajaran Simulasi Digital berikut ini disusun dengan tujuan memberi pengalaman kongkret
danabstrak kepada peserta didik. Pembelajaran Simulasi Digital akan membentuk
kemampuan peserta didik dalam menyajikan gagasan dan pengetahuan kongkret dan
abstrak, menyelesaikan permasalahan abstrak terkait, dan latihan berpikir
rasional, kritis dan kreatif.
Mata pelajaran Simulasi Digital
meliputi:
- Komunikasi dalam jaringan (daring/online);
- Kelas maya;
- Presentasi video;
- Presentasi video untuk branding dan marketing;
- Simulasi visual;
6. Aplikasi
pengolah simulasi visual tahap produksi dan pascaproduksi, dan
7. Buku
digital.
Untuk merumuskan IPK dapat
digunakan rambu-rambu sebagai berikut.
1. Indikator
merupakan penanda perilaku pengetahuan (KD dari KI-3) dan perilaku keterampilan
(KD dari KI-4) yang dapat diukur dan atau diobservasi.
2. Indikator
perilaku sikap spiritual (KD dari KI-1) dan sikap sosial (KD dari KI-2) dapat
tidak dirumuskan sebagai indikator pencapaian kompetensi pada RPP, tetapi
perilaku sikap spiritual dan sikap sosial harus dikaitkan pada perumusan tujuan
pembelajaran.
3. Rumusan Indikator
Pencapaian Kompetensi (IPK) menggunakan dimensi proses kognitif (dari memahami
sampai dengan mengevaluasi) dan dimensi pengetahuan (fakta, konsep, prosedur,
dan metakonitif) yang sesuai dengan KD, namun
tidak menutup kemungkinan perumusan indikator dimulai dari serendah-rendahnyaC2sampai
setara dengan KD hasil analisis dan rekomendasi.
4. IPK dirumuskan melalui
langkah-langkah sebagai berikut:
a.
tentukan
kedudukan KD dari KI-3 dan KD dari KI-4 berdasarkan gradasinya dan tuntutan KI;
b.
tentukan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual,
prosedural, metakognitif);
c.
tentukan bentuk keterampilan, apakah keterampilan
abstrak atau keterampilan konkret;
d.
untukketerampilan kongkret pada kelas X menggunakan
kata kerja operasional sampai tingkat membiasakan/manipulasi. Sedangkan untuk
kelas XI sampai minimal pada tingkat mahir/presisi. Selanjutnya untuk kelas XII
sampai minimal pada tingkat ‘menjadi gerakan alami’/artikulasi pada taksonomi
psikomotor Simpson atau Dave, dan
e.
rumusanIPK pada setiap KD dari KI-3 dan pada KD dari
KI-4 minimal memiliki 2 (dua) indikator.
C. Contoh
Tabel 5
berikut adalah contoh penjabaran KI dan KD ke dalam Indikator Pencapaian
Kompetensi (IPK) dan Materi Pembelajaran yang dikutif dari
Permendikbud Nomor 60 Tahun 2014.
Tabel 6. Penjabaran KI dan KD ke dalam Indikator Pencapaian
Kompetensi (IPK) dan Materi Pembelajaran
(dari Permendikbud Nomor 60 Tahun 2014)
Mata
Pelajaran: Simulasi Digital
|
KI Kelas X
|
Kompetensi
Dasar
|
IPK
|
Materi
Pembelajaran
|
|
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya.
|
1.1
Memahami
nilai-nilai keimanan dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas
alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya.
1.2
Mendeskripsikan
kebesaran Tuhan yang menciptakan berbagaisumber energi di alam.
1.3 Mengamalkan nilai-nilai keimanan sesuai dengan ajaran agama dalam.
|
|
|
|
2
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli (gotong-royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan
proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan
alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan
dunia.
|
2.1
Menunjukkan
perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat;
tekun; hati-hati; bertanggung
jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan peduli lingkungan) dalam
aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan
percobaan dan berdiskusi.
2.2
Menghargai kerja
individu dan kelompok dalam aktivitas sehari‑hari sebagai wujud implementasi
melaksanakan percobaan dan melaporkan hasil percobaan.
|
|
|
|
3
Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
|
3.2
Menerapkan
pengetahuan pengelolaan informasi digital.
|
· Menerangkankomunikasi daring asinkron.
· Menerangkankomunikasi daring sinkron.
· Menerangkan kewargaaandigital.
· Menerapkan komunikasi daring asinkron dan komunikasi daring sinkron.
|
·
Komunikasi
daring asinkron.
·
Komunikasi
daring asinkron.
·
Kewargaan
digital
·
Komunikasi
daring asinkron dan komunikasi daring sinkron.
|
|
4
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
|
4.2 Menyajikan hasil penerapan pengelolaan informasi digital melalui
komunikasi daring online.
|
·
Mengikuti komunikasi daring asinkron dan
sinkron berdasarkan contoh.
·
Mendemonstrasikan komunikasi daring asinkron dan
sinkron berdasarkan tugas
|
·
Mendemontrasikan Komunikasi daring asinkron dan
sinkron.
|
Kurikulum 2013
mengharus adanya analisis dan integrasi Muatan Lokal dan Ekstrakurikler Keparmukaan
pada setiap mata pelajaran. Integrasi Muatan Lokal pada mata pelajaran Simulasi
Digital dimaknai sebagai materi yang kontekstual sesuai lingkungan sekitar dan atau
topik kekinian. Tabel 6 di bawah ini merupakan contoh bagaimana
integrasi Muatan Lokal tersebut.
Tabel 7.Pengintegrasian Muatan Lokal
(Nilai Kontekstual) ke dalamMata Pelajaran Simulasi Digital
|
Kompetensi Dasar
|
Integrasi Muatan Lokal ke dalam Materi Mata Pelajaran
|
|
3.2 Menerapkan
pengetahuan pengelolaan informasi digital melalui pemanfaatan komunikasi daring (online).
|
Menggunakan komunikasi daring
asinkron dan komunikasi daring sinkron pada bidang usaha pertambangan yang ada di
wilayah Kabupaten Bangka Tengah.
|
|
4.2
Menyajikan hasil penerapan
pengelolaan informasipengelolaan informasi digital melalui komunikasi daring
(online).
|
Integrasi
ekstrakurikuler Kepramukaan dimaknai dengan pemanfaatan kegiatan Kepramukaan
sebagai wahana aktualisasi materi pembelajaran,
diawali dengan menganalisis Kompetensi Dasar dari KD yang akan dipelajari
apakah ada kegiatan yang dapat dipraktikan pada
kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Atas dasar analisis tersebut jika KD yang
dipelajari dimungkinkan dapat diintegrasikan pada kegiatan Kepramukaan,
tentukan bentuk kegiatannya dan lakukan komunikasi dengan pembina Pramuka pada
rapat dewan guru untuk dijadikan materi program aktualisasi pembinaan ekstrakurikuler
Pramuka yang dilakukan 2 jam/minggu.
Tabel 8.Pengintegrasian Mata
Pelajaran Simulasi Digital pada Kegiatan Aktualisasi Kepramukaan
|
Kompetensi Dasar
|
Integrasi materi mata
pelajaran pada Aktualisasi Ekstrakurikuler Kepramukaan
|
|
3.2 Menerapkan pengetahuan
pengelolaan informasidigital melalui pemanfaatan komunikasi daring (online).
|
Menggunakan kompetensi
komunikasi daring (online)
dalam kegiatan kepramukaan (mengirim dan menerima email, chatting, dst).
|
|
4.2 Menyajikan hasil penerapan
pengelolaan informasi digital melalui komunikasi daring (online).
|
Setiap
pengampu mata pelajaran melakukan analisis pengintegrasian mata
pelajaran simulasi digital pada kegiatan aktualisasi kepramukaan. Lebih lanjut dikoordinasikan pada tingkat satuan
pendidikan sebagai bahan untuk penentuan kegiatan aktualiasi ekstrakurikuler
Kepramukaan.
D. Latihan/Tugas
1. Buat
analisis keterkaitan KI, KD, Materi, dan Indikator Pencapaian Kompetensi
seperti contoh di atas dari pasangan KD-3 dan KD-4 (Tabel 4).
2. Buat
analisis integrasi materi KD Mata Pelajaran yang Saudara ampu dengan Muatan
Lokal/nilai-nilai kontekstual dan Ekstrakurikuler Kepramukaan seperti contoh
Tabel 5 dan Tabel 6.
III. PEMAHAMAN PROSES PEMBELAJARAN
A. Konsep
Pembelajaran adalah proses interaksi antarpeserta didik,
antara peserta didik dan pendidik, dan antara peserta dan sumber
belajar lainnya pada suatu lingkungan belajar yang berlangsung secara
edukatif, agar peserta didik dapat membangun sikap, pengetahuan dan
keterampilannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Proses pembelajaran
merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian kegiatan mulai dari
perencanaan, pelaksanaan hingga penilaian.
Proses
pembelajaran mengacu pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.
Peserta
didik difasilitasi untuk mencari tahu.
2.
Peserta
didik belajar dari berbagai sumber belajar.
3.
Proses
pembelajaraan menggunakan pendekatan ilmiah
4.
Pembelajaran
berbasis kompetensi
5.
Pembelajaran
terpadu;
6.
Pembelajaran
yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi;
7.
Pembelajaran
berbasis keterampilan aplikatif;
8.
Peningkatan
keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan
soft-skills;
9.
Pembelajaran
yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar
sepanjang hayat;
10. Pembelajaran yang menerapkan
nilai-nilai dengan memberiketeladanan (ingngarso sung tulodo), membangun
kemauan (ingmadyomangunkarso), dan mengembangkan kreativitas pesertadidik dalam
proses pembelajaran (tut wurihandayani);
11. Pembelajaran yang berlangsung di
rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12. Pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
13. Pengakuan atas perbedaan individual
dan latar belakang budaya peserta didik; dansuasana belajar menyenangkan dan
menantang
B. Deskripsi
1. Program Tahunan/Semesteran
Perencanaan pembelajaran dirancang
dalam bentuk silabus yang disusun serta ditetapkan secara nasional. Rancangan
tersebut perlu dijabarkan lebih lanjut oleh guruke dalam rencana pembelajaran
dalam bentuk program tahunan/semesteran.
Program tahunan/semester merupakan rancangan garis besar pembelajaran
yang disusun oleh guru sebelum menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Program tahunan/semester menggambarkan urutan pembelajaran, materi pembelajaran
dan alokasi waktu untuk setiap materi pembelajaran. Penyusunan Program tahunan/semester
mengacu pada kalender pendidikan yang dikeluarkan olehDinas Pendidikan
setempat. Kalender pendidikan sangat diperlukan oleh guru terutama untuk
menghitung minggu efektif.
2. Perencanaan Pembelajaran
|
Try to keep student in mind as you plan your
lesson. Ask you self:
· Who are they?
· What do they already know?
· What must they learn?
· What should they learn about this?
· What must they do?, and
· How will they demonstrate their learning?
(British Columbia Institute Technology,
2010:2)
|
·
Satu
pasangan KD dibuat dalam satu RPP, dan
·
Satu RPP
dapat dibuat untuk satu kali pertemuan atau lebih.
a. Perumusan indikator
Indikator Pencapaian
Kompetensi (IPK) dirumuskan dalam pernyataan perilaku yang dapat diukur
dan/atau diobservasi untuk KD pada KI-3 dan KI-4 (telaah kembali penjelasan
di atas).
b. Perumusan tujuan
Rumusan tujuanpembelajaran mengandung unsur
peserta didik (audience), perilaku (behavior), kondisi (condition), dan kriteria (degree).
Rumusan tujuan pembelajaran harus mencerminkan keterikatan antara sikap-sikap yang terkandung dalam KD dari KI-1
dan KD dari KI-2 yangdapat dipilih dan dibentuk melalui proses pembelajaran KD-3
dan KD-4. Rumusan tujuan juga harus mencerminkan aspek
penilaian otentik berupa proses dan produk.
Rumusan kriteria dalam tujuan
pembelajaran berupa kriteria kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan,
kompetensi keterampilan. Kriteria dapat berupa perilaku, proses atau produk
yang dapat diamati dan atau diukur.
c. Langkah pembelajaran
Langkah-langkah pembelajaran berisi
pendekatan pembelajaran saintifik dan model pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik KD yang akan diajarkan.
3. Pelaksanaan Pembelajaran
Langkah-langkah
pembelajaran berpendekatan saintifik harus dapat dipadukan secara sinkron
dengan langkah-langkah kerja (syntax)
model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang
digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis
untuk mencapai tujuan belajar yang menyangkut sintaksis, sistem sosial, prinsip
reaksi dan sistem pendukung (Joice&Wells).
Tujuan
penggunaan model pembelajaran sebagai strategi bagaimana belajar yang membantu
peserta didik mengembangkan dirinya baik berupa informasi, gagasan, keterampilan
nilai dan cara-cara berpikir dalam meningkatkan kapasitas berpikir secara
jernih, bijaksana dan membangun keterampilan sosial serta komitmen (Joice&
Wells).
Pada
Kurikulum 2013 dikembangkan 3 (tiga) model pembelajaran utama yang diharapkan
dapat membentuk perilaku saintifik, perilaku sosial serta mengembangkan rasa
keingintahuan. Ketiga model tersebut adalah: model Pembelajaran Berbasis
Masalah (Problem Based Learning),
model Pembelajaran Berbasis Prijek (Project
Based Learning), dan model Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan (Discovery/Inquiry Learning). Tidak
semua model pembelajaran tepat digunakan untuk semua KD/materi pembelajaran.
Model pembelajaran tertentu hanya tepat digunakan untuk materi pembelajaran
tertentu pula. Demikian sebaliknya mungkin materi pembelajaran tertentu akan
dapat berhasil maksimal jika menggunakan model pembelajaran tertentu. Untuk itu
guru harus menganalisis rumusan pernyataan setiap KD, apakah cenderung pada
pembelajaran penyingkapan (Discovery/Inquiry
Learning) atau pada pembelajaran hasil karya (Problem Based Learning dan Project Based Learning).
Rambu-rambu
penentuan model penyingkapan/penemuan:
a. Pernyataan
KD-3 dan KD-4 mengarah ke pencarian atau penemuan;
b. Pernyataan
KD-3 lebih menitikberatkan pada pemahaman pengetahuan faktual, konseptual, dan
procedural; dan
c. Pernyataan
KD-4 pada taksonomi mengolah dan menalar.
Rambu-rambu
penemuan model hasil karya (Problem Based
Learning dan Project Based Learning):
a. Pernyataan
KD-3 dan KD-4 mengarah pada hasil karya berbentuk jasa atau produk;
b. Pernyataan
KD-3 pada bentuk pengetahuan metakognitif;
c. Pernyataan
KD-4 pada taksonomi menyaji dan mencipta, dan
d. Pernyataan
KD-3 dan KD-4 yang memerlukan persyaratan penguasaan pengetahuan konseptual dan
prosedural.
Masing-masing
model pembelajaran tersebut memiliki urutan langkah kerja (syntax) tersendiri, yang dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Model
Pembelajaran Penyingkapan (Penemuan dan pencarian/penelitian)
Model
Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui
proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih,
2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam
penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip.
Discovery
dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran,
prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive
process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process
of assimilatingconcepts and principles in the mind (Robert B. Sund dalam
Malik, 2001:219).
1) Sintaksis model Discovery Learning
a)
Pemberian
rangsangan (Stimulation);
b)
Pernyataan/Identifikasi
masalah (Problem Statement);
c)
Pengumpulan data (Data Collection);
d)
Pembuktian (Verification), dan
e) Menarik simpulan/generalisasi
(Generalization).
2) Sintaksis model Inquiry Learning Terbimbing
Model pembelajaran yang dirancang membawa
peserta didik dalam proses penelitian melalui penyelidikan dan penjelasan dalam
setting waktu yang singkat
(Joice&Wells, 2003).
Merupakan kegiatan pembelajaran yang
melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
menyelidiki sesuatu secara sistematis kritis dan logis sehingga mereka dapat
merumuskan sendiri temuannya.
Sintaksis/tahap model inkuiri meliputi:
a)
Orientasi masalah;
b)
Pengumpulan data
dan verifikasi;
c)
Pengumpulan data
melalui eksperimen;
d)
Pengorganisasian
dan formulasi eksplanasi, dan
e)
Analisis proses
inkuiri.
b. Model
Pembelajaran Hasil Karya Problem Based
Learning (PBL)
Merupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai
kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta
lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan,
dan kontekstual (Tan OnnSeng, 2000).
Tujuan PBL adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam
menerapkan konsep-konsep pada permasalahan baru/nyata, pengintegrasian konsep High Order Thinking Skills (HOTS),
keinginan dalam belajar, mengarahkan belajar diri sendiri dan
keterampilan(Norman and Schmidt).
1) Sintaksis model Problem Based
Learning dari Bransford and Stein (dalam Jamie Kirkley, 2003:3) terdiri
atas:
a) Mengidentifikasi masalah;
b)
Menetapkan masalah
melalui berpikir tentang masalah dan menseleksi informasi-informasi yang
relevan;
c)
Mengembangkan
solusi melalui pengidentifikasian alternatif-alternatif, tukar-pikiran dan
mengecek perbedaan pandang;
d)
Melakukan tindakan
strategis, dan
e) Melihat ulang dan mengevaluasi
pengaruh-pengaruh dari solusi yang dilakukan.
2) Sintaksis model Problem Solving Learning Jenis Trouble Shooting (David H. Jonassen,
2011:93) terdiri atas:
a)
Merumuskan uraian
masalah;
b)
Mengembangkan
kemungkinan penyebab;
c)
Mengetes penyebab
atau proses diagnosis, dan
d) Mengevaluasi.
c. Model
pembelajaran Project Based Learning (PjBL).
Pembelajaran otentik menggunakan proyek
nyata dalam kehidupan yang didasarkan pada motivasi yang tinggi, pertanyaan
yang menantang, tugas-tugas atau permasalahan untuk membentuk penguasaan
kompetensi yang dilakukan secara kerjasama dalam upaya memecahkan masalah
(Barel, 2000 and Baron 2011).
Tujuan PjBL adalah meningkatkan motivasi belajar, team work, keterampilan kolaborasi dalam pencapaian kemampuan
akademik level tinggi/taksonomi tingkat kreativitas yang dibutuhkan pada abad
21 (Cole &Wasburn Moses, 2010).
Sintaksis/tahapan
model pembelajaran Project Based Learning,
meliputi:
1)
Penentuan
pertanyaan mendasar (Start with the
Essential Question);
2)
Mendesain
perencanaan proyek;
3)
Menyusun jadwal (Create a Schedule);
4)
Memonitor peserta
didik dan kemajuan projek (Monitor the
Students and the Progress of the Project);
5)
Menguji hasil (Assess the Outcome), dan
6) Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the
Experience).
Proses pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran berpendekatan saintifik, meliputi lima langkah sebagai berikut:
1. Mengamati, yaitu
kegiatan siswa untuk mengidentifikasi melalui indera penglihat (membaca,
menyimak), pembau, pendengar, pengecap dan peraba pada waktu mengamati suatu objek dengan
ataupun tanpa alat bantu. Alternatif kegiatan mengamati antara lain observasi
lingkungan, mengamati gambar, video, tabel dan grafik data, menganalisis peta,
membaca berbagai informasi yang tersedia di media masa dan internet maupun
sumber lain. Bentuk hasil belajar dari kegiatan mengamati adalah siswa dapat mengidentifikasi masalah.
2. Menanya, yaitu kegiatan siswa untuk
mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya baik yang berkenaan dengan suatu objek,
peristiwa, suatu proses tertentu. Dalam kegiatan menanya, siswa membuat
pertanyaan secara individu atau kelompok tentang apa yang belum diketahuinya.
Siswa dapat mengajukan pertanyaan kepada guru, nara sumber, siswa lainnya dan
atau kepada diri sendiri dengan bimbingan guru hingga siswa
dapat mandiri dan menjadi kebiasaan. Pertanyaan dapat diajukan secara
lisan dan tulisan serta harus dapat membangkitkan motivasi siswa untuk tetap aktif
dan gembira. Bentuknya dapat berupa kalimat pertanyaan dan
kalimat hipotesis. Hasil belajar dari kegiatanmenanya adalah siswa dapat merumuskan masalah dan merumuskan hipotesis.
3. Mengumpulkan data, yaitu
kegiatan siswa untuk mencari informasi sebagai bahan untuk dianalisis
dan disimpulkan. Kegiatan mengumpulkan data dapat
dilakukan dengan cara membaca buku, mengumpulkan data sekunder, observasi
lapangan, uji coba (eksperimen), wawancara, menyebarkan kuesioner, dan
lain-lain. Hasil belajar dari kegiatan mengumpulkan data adalah siswa dapat menguji hipotesis.
4. Mengasosiasi, yaitu
kegiatan siswa mengolah data dalam bentuk serangkaian
aktivitas fisik dan pikiran dengan bantuan peralatan tertentu. Bentuk kegiatan
mengolah data antara lain melakukan klasifikasi, pengurutan (sorting), menghitung, membagi, dan
menyusun data dalam bentuk yang lebih informatif, serta menentukan sumber data
sehingga lebih bermakna. Kegiatan siswa dalam mengolah data misalnya membuat
tabel, grafik, bagan, peta konsep, menghitung, dan pemodelan. Selanjutnya siswa
menganalisis data untuk membandingkan ataupun menentukan hubungan antara data
yang telah diolahnya dengan teori yang ada sehingga dapat ditarik simpulan dan
atau ditemukannya prinsip dan konsep penting yang bermakna dalam menambah skema
kognitif, meluaskan pengalaman, dan wawasan pengetahuannya. Hasil belajar
dari kegiatan menalar/mengasosiasi adalah siswa
dapat menyimpulkan hasil kajian dari hipotesis.
5. Mengomunikasikan yaitu
kegiatan siswa mendeskripsikan dan menyampaikan hasil temuannya dari kegiatan
mengamati, menanya, mengumpulkan dan mengolah data, serta mengasosiasi yang
ditujukan kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan dalam bentuk
diagram, bagan, gambar, dan sejenisnya
dengan bantuan perangkat teknologi sederhana dan atau teknologi informasi dan
komunikasi. Hasil belajar dari kegiatanmengomunikasikan
adalah siswa dapat memformulasikan dan
mempertanggungjawabkan pembuktian hipotesis.
C. Contoh
Agar
memudahkan langkah pemaduan/pensinkronan pendekatan dengan model pembelajaran
yang dipilih atas dasar hasil analisis, dapat menggunakan matrik perancah
sebagai pertolongan sebelum dituliskan menjadi kegiatan inti pada RPP. Pemaduan
atau pensinkronan antara langkah-langkah pendekatan saintifik dan sintaksis
(langkah kerja) model pembelajaran dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih
pasangan KD-KD dari mata pelajaran yang diampu sesuai dengan silabus dan buku
teks siswa terkait.
2. Rumuskan
IPK dari KD3 dan dari KD4 sesuai dengan dimensi proses atau level pengetahuan
dan dimensi kategori pengetahuan dan keterampilan yang
terkandung di masing-masing KD. Setiap KD minimal memiliki 2 (dua) indikator.
3. Petakan
pemilihan model pembelajaran sesuai KD dengan mempertimbangkan rambu-rambu
pemilihan model pembelajaran.
4. Pilih
model pembelajaran sesuai KD dengan mempertimbangkan rambu-rambu pemilihan
model pembelajaran.
5. Tentukan
kegiatan peserta didik dan kegiatan guru sesuai dengan langkah-langkah
(sintaksis) model pembelajaran yang dipilih, kemudian sinkronkan dengan langkah
pendekatan saintifik (5M) sampai mencapai IPK.
Tabel 9. Penentuan Model Pembelajaran
Mata Pelajaran: Simulasi Digital
Kelas:
XI
|
No.
|
Kompetensi
|
Model Pembelajaran
|
Keterangan
|
|
1.
|
KD 3.1 Menerapkan
pengetahuan pengelolaan informasi digital melalui pemanfaatan perangkat lunak
pengolah informasi.
|
|
|
|
KD 4.1 Menyajikan
hasil penerapan pengelolaan informasi digital melalui pemanfaatan perangkat
lunak pengolah informasi.
|
|||
|
2.
|
KD.3.2 Menerapkan pengetahuan pengelolaan
informasi digital melalui pemanfaatan komunikasi daring (online).
|
Model Pembelajaran
Discovery Learning
|
a. KD-3.2 menitikberatkan pada pemahamanpengetahuan
konseptual dan prosedural.
b. KD 4.2 Pernyataan KD-4 pada taksonomi keterampilan
kongkret pada gradasi membiasakan gerakan atau manipulasi.
|
|
KD.4.2 Menyajikan hasil penerapan
pengelolaan informasi digital melalui komunikasi daring (online).
|
|||
|
|
Dst
|
|
|
Tabel10. Matrik Perancah Pemaduan Sintaksis Model Pembelajaran Discovery Learningdan Pendekatan Saintifik pada Mapel Simulasi Digital
KI 3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian
dalam bidang kerja yang spesifik untukmemecahkan masalah.
KI 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam
ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.
|
Kompetensi
Dasar
|
IPK
|
Sintaksis
model Discovery Learning
|
Pendekatan
Saintifik
|
||||
|
Mengamati
|
Menanya
|
Mengumpulkan
Informasi
|
Menalar
|
Mengomuni-kasikan
|
|||
|
3.2. Menerapkan pengetahuan
pengelolaan informasi digital melalui pemanfaatan komunikasi daring (online).
|
·
Menerangkan komunikasi daring
asinkron.
·
Menerangkan komunikasi daring
sinkron.
·
Menentukan prosedur
komunikasi daring asinkron dan komunikasi daring sinkron
|
1.
Pemberian stimulus terhadap siswa.
|
·
Guru meminta siswa untuk melihat
berbagai jenis komunikasi dalam jaringan (daring/online) melalui bahan
tayangan.
·
Guru menugaskan siswa membaca buku
untuk meng identifikasi berbagai jenis komunikasi dalam jaringan (daring)
·
Siswa melihat bahan tayang yang
disajikan oleh Guru.
· Siswa membaca buku berkaitan dengan berbagai jenis
komukasi jaringan(darig)
|
|
|
|
|
|
·
Menerangkan kewargaan digital.
|
2.
Identifikasi masalah
|
·
Siswa berdiskusi tentang berbagai
jenis komunikasi dalam jaringan (daring).
·
Siswa membaca buku tetang
jenis-jenis komunikasi dalam jaringan
·
Siswa mengidentifikasi ciri-ciri
komunikasi jaringan (daring) asinkron dan sinkron dari hasil diskusi dan
buku.
·
Siswa menentukan komunikasi
jaringan (daring) asinkron dan sinkron.
|
·
Guru menugaskan siswa untuk
mengidentifikasi masalah utama apa dalam membuat komunikasi daring sinkron
dan asinkron serta syarat-syarat seseorang dikatakan warga
digital.
·
Siswa mengidentifikasi masalah-masalah
melalui contoh yang didemonstrasika n oleh guru mengenai e-mail, (komunikasi
asinkron) dan chatting(komunikasi sinkron).
·
Siswa membaca buku untuk
mendapatkan informasi tentang syarat-syarat dikatakan temasuk warga
digital seseorang
·
Siswa mendiskusikan syarat-syarat
seseorang dikatakan termasuk warga digital.
·
Siswa berdasarkan hasil membaca
buku dan diskusi dapat
·
merumuskan hal-hal apa saja yang
harus diperhatikan dalam menjadi warga digital meliputi
·
kebaikan, keburukan, dan
undang-undang ITE.
|
|
|
|
|
|
4.2 Menyajikan hasil penerapan
pengelolaan informasi digitalmelalui komunikasi daring (online).
|
·
Mengikuti
komunikasi daring asinkron dan sinkron berdasarkan contoh.
·
Mendemonstrasikan komunikasi
daring asinkron dan sinkron berdasarkan tugas.
|
3.
Pengumpulan data
|
|
|
·
Guru Meminta siswa
untuk menentukan prosedur komunikasi daring asinkron dan sisnkron sesuai
aturan melalui buku siswa dan didskusi
·
Siswa menggali
informasi prosedur tentang informasi komunikasi daring asingkron dan sinkron
·
Siswa mendiskusikan
untuk menentukan prosedur daring asingkron dan sinkron
·
Siswa menyampaikan
pada kelompok lain dan menanggapinya berkaitan prosedur komunikasi daring asinkron dan
sinkron
·
Guru meminta siswa
untuk mencoba melakukan komunikas daring asinkron dan sinkron sesuai dengan
aturan–aturan dalam berkomunikasi daring.
·
Siswa mencoba
membuat akun pada Gmail dan Yahoo sesuai dengan aturan seperti contoh
·
Siswa mencoba
mengirimkan e-mail kepada guru atau temannya menggunakan akun e-mail (G-mail
dan Yahoo) sesuai dengan aturan seperti contoh Guru.
·
Siswa mencoba
melakukan chatting sesuai dengan aturan sesuai contoh guru.
|
|
|
|
4.
Pembuktian
|
|
|
|
·
Guru menugaskan
siswa untuk menilai hasil komunikasi dengan daring asinkron (e-mail) dan
sinkron (chatting) kepada siswa dikomputer menggunakan format penilaian.
·
Siswa menilai hasil
komunikasi daring asinkron(e-mail) menggunakan format penilaian etika berkomunikasi
daring.
·
Siswa menilai hasil
komunikasi daring sinkron(chatting) menggunakan format penilaian etika
berkomunikasi daring.
·
Guru menugaskan
kepada siswa untuk mengirim e-mail dan chatting kepada guru berdasarkan
perintah.
·
Siswa mengirim
tugas via e-mail.
·
Siswa berkomunikasi
tentang pelajaran via chatting.
|
|
||
|
5.
Menarik kesimpulan/generalisasi
|
|
|
|
|
·
Guru menugaskan
siswa untuk menyajikan cara-cara serta kesimpulan berkomunikasi daring
asinkron dan sinkron.
·
Siswa membuat bahan
presentasi tentang berkomunikasi daring asinkron dan sinkron dalam bentuk
PPT.
·
Siswa menyajikan
tentang berkomunikasi daring asinkron dan sinkron.
·
Siswa lain
memberikan tanggapan terhadap presentasi.
·
Siswa menerima
tanggapan dari siswa lain dan guru.
·
Siswa memperbaiki
hasil presentasi dan membuat simpulan.
|
||
Catatan:
Hasil pemaduan model pembelajaran dan pendekatan
saintifik digunakan dalam penyusunan RPP khususnya pada perumusan kegiatan inti
pembelajaran.
D. Latihan/Tugas
Buat pemaduan pendekatan saintifik dengan model belajar yang Saudara
pilih berdasarkan analisis menggunakan format matrik seperti tabel di atas untuk mata pelajaran yang Saudara ampu.
IV. PEMAHAMAN PENILAIAN HASIL BELAJAR
A. Konsep
1. Penilaian
hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik mengandung makna pengukuran,
penilaian dan evaluasi. Pengukuran adalah kegiatan membandingkan hasil
pengamatan dengan suatu kriteria atau ukuran. Penilaian adalah proses
mengumpulkan informasi/bukti, menafsirkan, mendeskripsikan, dan
menginterpretasi bukti-bukti hasil pengukuran. Sedangkan Evaluasi adalah proses
mengambil keputusan berdasarkan hasil-hasil penilaian.
2. Penilaian
merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian
hasil belajar peserta didik dalam ranah sikap (spiritual dan sosial), ranah pengetahuan, dan ranah keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan
setelah proses pembelajaran suatu kompetensi muatan pembelajaran untuk kurun
tertentu.
3. Penilaian
hasil belajar berperan membantu peserta didik mengetahui capaian pembelajaran (learning
outcomes), memperoleh informasi tentang kelemahan dan kekuatan pembelajaran
dan belajar. Dalam pendidikan berbasis standar (standard-based education), kurikulum bebasis kompetensi
(competency-based curriculum), dan pendekatan belajar tuntas (mastery
learning) penilaian proses dan hasil belajar merupakan parameter tingkat
pencapaian kompetensi minimal yang menjadi batas ketuntasan belajar.
4. Penilaian
hasil belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan pemerintah.
5. Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah
proses pengumpulan informasi/bukti tentang capaian pembelajaran peserta didik
dalam ranah sikap spiritual dan sikap sosial, ranah pengetahuan, dan ranah keterampilan yang dilakukan secara
terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran.
6. Penilaian
hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau
proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan
tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Penilaian oleh pendidik
digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik; bahan penyusunan
laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
7. Penilaian
hasil belajar oleh satuan pendidikan bertujuan menilai pencapaian standar
kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran.Penilaian hasil belajar oleh
Pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara
nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi, dilakukan dalam bentuk ujian nasional.
B. Deskripsi
1. Penilaian
hasil belajar oleh pendidik memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan
kompetensi, menetapkan ketuntasan penguasaan kompetensi,menetapkan
program perbaikan atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi,
dan memperbaiki proses pembelajaran.
2. Penilaian
hasil belajar oleh pendidik dilaksanakan dalam bentuk penilaian otentik.
Penilaian otentik merupakan pendekatan utama dalam penilaian hasil belajar oleh
pendidik. Penilaian otentikadalah bentuk penilaian yang menghendaki peserta didik
menampilkan sikap, menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari
pembelajaran dalam melakukan tugas pada situasi yang sesungguhnya.
3. Penilaian
hasil belajar oleh pendidik menggunakan acuan
kriteria. Acuan kriteria merupakan penilaian kemajuan peserta didik
dibandingkan dengan kriteria capaian kompetensi yang ditetapkan. Bagi yang
belum berhasil mencapai kriteria, diberi kesempatan mengikuti pembelajaran
remedial yang dilakukan setelah suatu kegiatan penilaian baik secara
individual, kelompok, maupun kelas. Bagi peserta didikyang
berhasil dapat diberikan program pengayaan sesuai dengan waktu yang tersedia
baik secara individual maupun kelompok. Program pengayaan merupakan pendalaman
atau perluasan dari kompetensi yang dipelajari. Acuan Kriteria menggunakan
modus untuk sikap, rerata untuk pengetahuan, dan capaian optimum untuk
keterampilan.
4. Penilaian
hasil belajar oleh pendidik untuk ranah sikap, ranah pengetahuan, dan ranah keterampilan
menggunakan skala penilaian. Skala
penilaian untuk ranah sikap menggunakan rentang predikat Sangat Baik (SB),
Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K). Sedangkan skala penilaian untuk ranah pengetahuan
dan ranah keterampilan menggunakan rentang angka dan huruf 4,00
(A) - 1,00 (D) dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 11. Skala Penilaian
|
No.
|
Angka
|
Huruf
|
|
1
|
3,85 - 4,00
|
A
|
|
2
|
3,51 - 3,84
|
A-
|
|
3
|
3,18 - 3,50
|
B+
|
|
4
|
2,85 - 3,17
|
B
|
|
5
|
2,51 - 2,84
|
B-
|
|
6
|
2,18 - 2,50
|
C+
|
|
7
|
1,85 - 2,17
|
C
|
|
8
|
1,51 - 1,84
|
C-
|
|
9
|
1,18 - 1,50
|
D+
|
|
10
|
1,00 - 1,17
|
D
|
5. Lingkup
dan sasaranpenilaian hasil belajar oleh pendidik mencakup ranah sikap
(spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan.
a. Sasaran Penilaian Hasil Belajar oleh
Pendidik pada ranah sikap spiritual dan sikap sosial meliputi
tingkatan sikap: menerima, menanggapi, menghargai, menghayati, dan mengamalkan
nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai sosial.
b.
Sasaran penilaian hasil belajar oleh pendidik pada ranah pengetahuan
kemampuan berpikirmulai dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis,
mengevaluasi, mencipta serta dimensi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural
dan metakognitif.
c.
Sasaran penilaian hasil belajar oleh pendidik pada ranah keterampilan
abstrak yaitu kemampuan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba,
menalar dan mengomunikasikan. Sedangkan pada ranah keterampilan
kongkret adalah persepsi, kesiapan, meniru, membiasakan gerakan, mahir, menjadi
gerakan alami, menjadi tindakan orisinal.
6. Teknik
Penilaian Ranah Sikap
Penilaian ranah sikap bertujuan membentuk sikap dan
karakter peserta didik yang dilaksanakan selama kegiatan proses pembelajaran
berlangsung. Penilaian ranah sikap dilakukan melalui pengamatan, menggunakan
lembar pengamatan atau ceklis pengamatan yang memuat aspek sikap yang diamati.
Rincian aspek sikap yang diamati merujuk pada KD dari
KI-1 dan KI-2.
Penilaian sikap dilakukan sebagai upaya mengembangkan sikap sosial dan
sikap spiritual dalam rangka pengembangan nilai karakter bangsa.Oleh karena
itu, pengembangan rubrik penilaian sikap pada seluruh mata pelajaran di satuan
pendidikan fokus pada bagian dari upaya pencapaian ranah sikap (spiritual dan
sosial). Setiap satuan pendidikan menyepakati dan menetapkan aspekdan rubrik
penilaian sikap yang akandigunakan oleh semua pendidik. Satuan pendidikan dalam
mengembangkan aspek dan rubrik penilaian sikap hendaknya memperhatikan sikap
yang dituntut berdasarkan KD dari KI-1 dan KI-2.
Bila dimungkinkan pada tingkat daerah (kabupaten atau kota)
dikembangkan aspek dan rubrik penilaian sikap yang digunakan oleh seluruh satuan
pendidikan.
Setiappendidik memetakan aspek sikap yang dikembangkan/ditekankan pada kegiatan
pembelajarannya sesuai dengan relevansi dan karakteristik,
baik yang tersurat maupun yang tersirat pada rumusan KI-3 dan KI-4, serta
menggunakan rubrik penilaian sikap yang disepakati pada satuan pendidikan
Untuk peserta didik yang bermasalah (belum menunjukkan sikap yang diinginkan),
terlebih dahulu dilakukan pembinaan selama proses pembelajaran oleh
guru mata pelajaran yang bersangkutan. Frekuensi perubahan
sikap yang ditunjukkan oleh peserta didik selama kurun waktu inilah yang
disebut dengan modus. Nilai akhir yang
dilaporkan oleh pendidik kepada satuan pendidikan adalah nilai modus yang
diperoleh/nilai yang terbanyak muncul (Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 Pasal 6 ayat (3)).
Tabel
12. Teknik dan Instrumen Penilaian Sikap
|
Teknik
Penilaian
|
Bentuk
Instrumen
|
Keterangan
|
|
Observasi
|
Daftar cek
Skala penilaian sikap
|
Dilakukan selama proses pembelajaran.
|
|
Penilaian diri
|
Daftar cek
Skala penilaian sikap
|
Dilakukan pada akhir semester.
|
|
Penilaian antar peserta didik
|
Daftar cek
Skala penilaian sikap
|
Dilakukan pada akhir semester, setiap peserta didik
dinilai oleh 3 peserta didik lainnya.
|
|
Jurnal
|
Catatan pendidik tentang sikap dan perilaku positif
atau negatif, selama dan di luar proses pembelajaran mata pelajaran.
|
Berupa catatan guru tentang sikap dan perilaku
positif atau negatif peserta didik yang tidak berkaitan dengan mata
pelajaran.
|
7. Teknik
Penilaian Ranah Pengetahuan
Penguasaan siswa pada ranah pengetahuan dapat diukur melalui tes
tulis, observasi dan penugasan, dikembangkan berdasarkan kompetensi yang harus dicapai
oleh peserta didik. Pendidik dapat memilih salah satu teknik dan bentuk
penilaian ranah pengetahuan yang paling sesuai dengan karakteristik kompetensi
dasar yang dinilai.
Nilai akhir pengetahuan diambil dari nilai
rerata perolehan nilai ranah pengetahuan (Permendikbud no 104 tahun 2014 pasal
6 ayat 4).
Tabel
13. Teknik dan Instrumen Penilaian Pengetahuan
|
Teknik
Penilaian
|
Bentuk
Instrumen
|
|
Tes tulis
|
· Memilih
jawaban(pilihan ganda, dua pilihan benar-salah, ya-tidak), menjodohkan,
sebab-akibat.
· Mensuplai
jawaban (isian atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek, uraian).
|
|
Observasi
|
· Daftar
cek observasi guru terhadap diskusi, tanya jawab dan percakapan.
|
|
Penugasan
|
· Instrumen
penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang
dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
|
8. TeknikPenilaian
Ranah Keterampilan
Penilaian keterampilan meliputi keterampilan abstrak dan keterampilan
konkret. Keterampilan abstrak cenderung pada keterampilan seperti mengamati,
menanya, mengolah, menalar, dan mengomunikasikanyang lebih dominan pada
kemampuan mental (berpikir). Sedangkan untuk keterampilan kongkret cenderung
pada kemampuan fisik seperti menggunakan alat, mencoba, membuat, memodifikasi,
dan mencipta dengan bantuan alat.
Tabel
14. Teknik dan Instrumen Penilaian Keterampilan
|
Teknik Penilaian
|
Bentuk Instrumen
|
Keterangan
|
|
Unjuk kerja/kinerja/praktik
|
· Daftar
cek, dengan menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai bila
kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai.
· Skala
Penilaian (Rating Scale). Penilaian kinerja yang menggunakan skala
penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan
kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum dimana pilihan
kategori nilai lebih dari dua.
|
Penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik disebut juga
penilaian tugas yang dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik
dalam melakukan sesuatu.
Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai
ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu.
Penilaian Tugas adalah penilaian atas proses dan
hasil pengerjaan tugas yang dilakukan langsung
secara individu atau kelompok.
|
|
Projek
|
· Penilaian
projek dilakukan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pelaporan.
· Untuk
menilai setiap tahap perlu disiapkan kriteria penilaian atau rubrik.
|
Penilaian projek dapat
digunakan untuk mengetahui pemahaman, mengaplikasi, menyelidiki dan
menginformasikan suatu hal secara jelas.
Penilaian projek dilakukan mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, sampai pelaporan.
|
|
Produk
|
· Daftar
cek atau skala penilaian (rubrik)
|
Penilaian produk menilai kemampuan peserta didik
membuat produk-produk, teknologi, dan seni.
|
|
Portofolio
|
· Daftar
cek atau skala penilaian (rubrik)
|
Penilaian portofolio pada dasarnya menilai
karya-karya peserta didik secara individu pada satu periode untuk suatu mata
pelajaran.
|
|
Tulis
|
· Tes
tulis, daftar cek atau skala penilaian (rubrik)
|
Penilaian tulis juga digunakan untuk menilai ranah keterampilan,
seperti menulis karangan, menulis laporan, dan menulis surat,laporan keuangan,dsb.
|
Hasil penilaian setiap KD keterampilan dilaporkan
dalam bentuk nilai optimum (nilai tertinggi) dari indikator pencapaian
kompetensi (IPK) dengan catatan tidak ada IPK yang mendapat nilai di bawah
batas ketuntasan (2,67) atau kurang dari 3 bila menggunakan
rentang 1-4.Sedangkan Nilai akhir untuk ranah keterampilan yang dilaporkan pendidik kepada
satuan pendidikan diambil dari rerata nilai optimal ranah keterampilan (Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 Pasal 6 ayat (5)).
9. Ketuntasan
Masing-masing
ranah (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) digunakan penyekoran dan pemberian
predikat yang berbeda. Nilai ketuntasan ranah sikap
dituangkan dalam bentuk predikat, yakni predikat Sangat Baik (SB), Baik (B),
Cukup (C), dan Kurang (K) sebagaimana tertera pada tabel berikut.
Tabel
15. Nilai Ketuntasan Sikap
|
Nilai
Ketuntasan Sikap(Predikat)
|
|
Sangat Baik
(SB)
|
|
Baik (B)
|
|
Cukup (C)
|
|
Kurang (K)
|
Nilai
ketuntasan ranah pengetahuan dan ranah keterampilan
dituangkan dalam bentuk angka dan huruf, yakni 4,00 – 1,00 untuk angka yang
ekuivalen dengan huruf A sampai dengan D sebagaimana tertera pada tabel
berikut.
Tabel
16. Nilai Ketuntasan Pengetahuan dan Keterampilan
|
Nilai
Ketuntasan
Pengetahuan
dan Keterampilan
|
|
|
Rentang
Angka
|
Huruf
|
|
3,85– 4,00
|
A
|
|
3,51– 3,84
|
A-
|
|
3,18– 3,50
|
B+
|
|
2,85– 3,17
|
B
|
|
2,51– 2,84
|
B-
|
|
2,18– 2,50
|
C+
|
|
1,85– 2,17
|
C
|
|
1,51– 1,84
|
C-
|
|
1,18– 1,50
|
D+
|
|
1,00– 1,17
|
D
|
Nilai ketuntasan ranah sikap
pada skala Baik,sedangkan
untuk ranah pengetahuan dan keterampilan pada skala 2,67
(B-). Hal yang perlu diperhatikan oleh pendidikan adalah
batas ketuntasan, meskipun nilai rerata ranah pengetahuan dan keterampilan 2,51-2,84termasuk dalam
kategori B-, tetap dinyatakan belum tuntas.
10. Remedial
dan Pengayaan
Peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar (2,67) wajib
mengikuti kegiatan remedial pada semester berjalan hingga mencapai ketuntasan
belajar.Sedangkan bagi peserta didik yang telah mencapai ketuntasan belajar dan
memiliki kecepatan belajar diatas rata-rata yang telah
ditetapkan dapat diberikan pengayaan dan pendalaman materi.
11. Pelaporan
Pencapaian Kompetensi
a. Skor
dan Nilai
Kurikulum 2013 menggunakan skala skor penilaian 4,00 – 1,00 dalam
menyekor pekerjaan peserta didik untuk setiap kegiatan penilaian (ulangan
harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, tugas-tugas, ujian
sekolah).
Untuk masing-masing ranah (sikap,
pengetahuan, dan keterampilan) digunakan penyekoran dan pemberian predikat yang
berbeda sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
Tabel 17. Konversi Skor dan Predikat Hasil Belajar untuk
Setiap Ranah
|
Sikap
|
Pengetahuan
|
Keterampilan
|
|||
|
Modus
|
Predikat
|
Skor Rerata
|
Huruf
|
Capaian Optimum
|
Huruf
|
|
4,00
|
SB
(Sangat Baik)
|
3,85 – 4,00
|
A
|
3,85 – 4,00
|
A
|
|
3,51 – 3,84
|
A-
|
3,51 – 3,84
|
A-
|
||
|
3,00
|
B
(Baik)
|
3,18 – 3,50
|
B+
|
3,18 – 3,50
|
B+
|
|
2,85 – 3,17
|
B
|
2,85 – 3,17
|
B
|
||
|
2,51 – 2,84
|
B-
|
2,51 – 2,84
|
B-
|
||
|
2,00
|
C
(Cukup)
|
2,18 – 2,50
|
C+
|
2,18 – 2,50
|
C+
|
|
1,85 – 2,17
|
C
|
1,85 – 2,17
|
C
|
||
|
1,51 – 1,84
|
C-
|
1,51 – 1,84
|
C-
|
||
|
1,00
|
K
(Kurang)
|
1,18 – 1,50
|
D+
|
1,18 – 1,50
|
D+
|
|
1,00 – 1,17
|
D
|
1,00 – 1,17
|
D
|
||
b. BentukLaporan
Pelaporan hasil belajar oleh pendidik
diberikan dalam bentuk laporan hasil semua bentuk penilaian. Pelaporan hasil
belajar merupakan hasil pengolahan oleh pendidik dengan menggunakan kriteria.Pelaporan
hasil belajar oleh pendidik digunakan oleh satuan pendidikan untuk mengisi
rapor dan menentukan promosi peserta didik.
Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas
apabila hasil belajar dari paling sedikit 3 (tiga) mata pelajaran pada ranah pengetahuan,
keterampilan, dan/atau sikap belum tuntas.
c. Nilai untuk Rapor
Hasil belajar yang dicantumkan dalam Rapor berupa:
1) untuk ranah sikap
menggunakan skor modus 1,00 - 4,00 dengan predikat Kurang (K), Cukup (C), Baik
(B), atau Sangat Baik (SB);
2) untukranah pengetahuan
menggunakan skor rerata 1,00 - 4,00 dengan predikat D - A.
3) untukranah keterampilan
menggunakan skor optimum 1,00 - 4,00 dengan predikat D - A.
C. Contoh
1. Penentuan Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian
Tabel
18. Penentuan Teknik dan Bentuk Penilaian
Mata Pelajaran :Simulasi
Digital
Kelas :
XI
Semester : 1
|
No.
|
Ranah
Kompetensi
|
Teknik
Penilaian
|
Bentuk
Penilaian
|
|
1.
|
Sikap
|
Observasi
|
Daftar
Skala Penilaian
|
|
2.
|
Pengetahuan
|
|
|
|
KD.3.2Menerapkan
pengetahuan pengelolaan informasi digital melalui pemanfaatan komunikasi daring (online).
|
TesTertulis
|
Mensuplai
jawaban (jawaban singkat)
|
|
|
3.
|
Keterampilan
|
|
|
|
KD.4.2Menyajikan hasil penerapan
pengelolaan informasi digital melalui komunikasi daring (online).
|
Unjuk Kerja
|
Daftar skala
1-4
|
2. Penilaian Ranah Sikap
(Contoh Penilaian
Sikap melalui Observasi)
Pada
awal tahun pembelajaran seluruh guru mata pelajaran dalam satuan pendidikan
mengembangkan dan menyepakati rubrik observasi penilaian sikapyang akan
digunakan di tingkat satuan pendidikan berdasarkan Kompetensi dasar dari KI 1
dan KI2.
Berdasarkan
kesepakatan rubrik observasi penilaian sikap tersebut, pendidik menyusun
instrumen penilaian sikap dengan relevansi dan karakteristik baik yang tersurat
maupun yang tersirat pada rumusan KI-3 dan KI-4.
Tabel
19. Contoh Instrumen dan Rubrik Penilaian Sikap (Sosial)
|
No
|
Nama Siswa/Kelompok
|
Disiplin
|
Jujur
|
Tanggung Jawab
|
Santun
|
|
1.
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
4 = jika
empat indikator terlihat.
3 = jika
tiga indikator terlihat.
2 = jika
dua indikator terlihat
1 = jika
satu indikator terlihat
Indikator Penilaian Sikap:
Disiplin
a. Tertib
mengikuti instruksi
b. Mengerjakan
tugas tepat waktu
c. Tidak
melakukan kegiatan yang tidak diminta
d. Tidak
membuat kondisi kelas menjadi tidak kondusif
Jujur
a. Menyampaikan
sesuatu berdasarkan keadaan yang sebenarnya
b. Tidak
menutupi kesalahan yang terjadi
c. Tidak
menyontek atau melihat data/pekerjaan orang lain
d. Mencantumkan
sumber belajar dari yang dikutip/dipelajari
Tanggung
Jawab
a. Pelaksanaan
tugas piket secara teratur
b. Peran serta
aktif dalam kegiatan diskusi kelompok
c. Mengerjakan tugas
sesuai yang ditugaskan
d. Merpikan kembali ruang, alat dan
peralatan belajar yang telah dipergunakan
Santun
a. Berinteraksi
dengan teman secara ramah
b. Berkomunikasi
dengan bahasa yang tidak menyinggung perasaan
c. Menggunakan
bahasa tubuh yang bersahabat
d. Berperilaku
sopan
Nilai
akhir sikap diperolehberdasarkan modus (skor yang sering muncul) dari keempat
aspek sikap di atas.
Kategori
nilai sikap:
Sangat baik :
apabila memperoleh nilai akhir 4
Baik :
apabila memperoleh nilai akhir 3
Cukup :
apabila memperoleh nilai akhir 2
Kurang :
apabila memperoleh nilai akhir 1
3. Penilaian Ranah Pengetahuan
Tabel 20. Contoh Kisi-Kisi, SoalPengetahuan, Kunci Jawaban,
Cara Pengolahan Nilai
Mata Pelajaran: Simulasi Digital
KD 3.2 Menerapkan pengetahuan pengelolaan informasi
digitalmelalui pemanfaatan komunikasi daring.
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
Indikator Soal
|
Jenis Soal
|
Soal
|
||
|
3.2 Menerapkan pengetahuan pengelolaan informasi digital melalui
pemanfaatan komunikasi daring (online).
|
·
Menerangkan komunikasi daring asinkron.
·
Menerangkan komunikasi daring sinkron.
·
Menerangkan kewargaan digital.
·
Menerapkan
komunikasi daring asinkron dan komunikasi daring sinkron.
|
1. Siswa dapat
menerangkan komunikasi daring asinkron.
2. Siswa dapat
menerangkan komunikasi daring sinkron.
3. Siswa dapat
menerangkan kewargaan digital.
4.
Siswa dapat
menerapkan komunikasi daring asinkron dan komunikasi daring sinkron.
|
Testulis
|
1.
Jelaskan konsep komunikasi daring
asinkron!
2.
Jelaskan konsep komunikasi daring sinkron!
3.
Jelaskan pengertian kewargaan digital!
4.
Uraikan contoh
warga digital dalam berkomunikasi daring asinkron!
|
||
|
Kunci Jawaban Soal:
1. Komunikasi daring tak serempak atau asinkron adalah
komunikasi menggunakan perangkat komputer dan dilakukan secara tunda.
2. Komunikasi daring serempak atau sinkron adalah
penggunaan komputer untuk berkomunikasi dengan individu lainnya pada waktu
yang sama melalui bantuan perangkat lunak.
3. Warga digital adalah orang yang sadar tentang hal
yang baik dan hal yang kurang/tidak baik, menunjukkan kecerdasan perilaku
teknologi, dan membuat pilihan yang tepat ketika menggunakan teknologi.
4. Jenis komunikasi asinkron antara lain e-mail, forum,
blog, jejaring sosial (social network) dan website.
|
||||||
|
Penskoran Jawaban dan Pengolahan Nilai
1. Jawaban
yang benar diberikan skor 2
2. Jawaban
yang salah diberikan skor 1
Nilai
KD = Jumlah peroleh skor/jumlah skor maksimal x nilai
maksimal
|
||||||
|
Contoh
Pengolahan Nilai
|
||||||
|
No soal
|
Skor
|
Nilai
|
||||
|
1.
|
1
|
(7/8)x4 = 3,50
(jumlah skor/skor maks jumlah
soal) x nilai maks)
|
||||
|
2.
|
2
|
|||||
|
3.
|
2
|
|||||
|
4.
|
2
|
|||||
|
Jumlah
|
7
|
|||||
4. Penilaian Ranah Keterampilan
Tabel 21. Contoh Instrumen Penilaian Keterampilan
Mata Pelajaran: Simulasi Digital
KD 4.2 Menyajikan hasil penerapan pengelolaan informasi
digitalmelalui komunikasi daring (online).
|
Aspek
|
Kategori
|
|||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Mengikuti komunikasi daring asinkron dan sinkron berdasarkan
contoh.
|
Tidak dapat Membuka perambah dan membuka situs Gmail
sesuai yang dicontohkan Guru, Membuat akun di Gmail sesuai yang dicontohkan Guru, Mengirim e-mail sesuai yang dicontohkan, Melakukan chatting sesuai yang
dicontohkan.
|
Terdapat kesalahan >1 dalam Membuka perambah dan
membuka situs Gmail sesuai yang dicontohkan Guru, Membuat akun di Gmail sesuai yang dicontohkan, Mengirim e-mail sesuai yang dicontohkan, Melakukan chatting sesuai yang dicontohkan.
|
Terdapat 1 kesalahan dalam Membuka perambah dan
membuka situs Gmail sesuai yang dicontohkan Guru, Membuat akun di Gmail
sesuai yang dicontohkan, Mengirim e-mail sesuai
yang dicontohkan, Melakukan chatting sesuai yang dicontohkan
|
Tepat dalam membuka perambah dan membuka situs Gmail
sesuai yang dicontohkan Guru, Membuat akun di Gmail sesuai yang dicontohkan, Mengirim e-mail sesuai yang dicontohkan, Melakukan chatting sesuai yang
dicontohkan.
|
|
Tidak dapat Menunjukkan hasil mengirim e-mail sesuai yang dicontohkan, Melakukan aktivitas chatting sesuai
yang dicontohkan.
|
Terdapat kesalahan >1 dalam Menunjukkan hasil
mengirim e-mail sesuai yang
dicontohkan, Melakukan aktivitas chatting sesuai yang dicontohkan.
|
Terdapat 1 kesalahan dalam menunjukkan hasil mengirim e-mail sesuai yang dicontohkan, Melakukan aktivitas chatting sesuai
yang dicontohkan.
|
Tepat dalam menunjukkan hasil mengirim e-mail sesuai yang dicontohkan, Melakukan aktivitas chatting sesuai
yang dicontohkan.
|
|
|
Mendemonstrasikan komunikasi daring asinkron dan sinkron berdasarkan tugas
|
Tidak dapat Membuka perambah dan membuka situs Gmail
sesuai dengan job sheet (tugas), Membuat akun di
Gmail dengan job sheet (tugas), Mengirim
e-mail dengan job
sheet (tugas), Melakukan chatting dengan job sheet (tugas).
|
Terdapat kesalahan >1 dalam Membuka perambah dan
membuka situs Gmail sesuai dengan job sheet (tugas), membuat akun di
Gmail dengan job sheet (tugas), mengirim
e-mail dengan job
sheet (tugas), melakukan chatting dengan job sheet (tugas).
|
Terdapat 1 kesalahan dalam Membuka perambah dan
membuka situs Gmail sesuai dengan job sheet (tugas), Membuat akun di
Gmail dengan job sheet (tugas), Mengirim
e-mail dengan job
sheet (tugas), Melakukan chatting dengan job sheet (tugas).
|
Tepat dalam membuka perambah dan membuka situs Gmail
sesuai dengan job sheet (tugas), membuat akun di Gmail dengan job sheet (tugas), mengirim e-mail
dengan job
sheet (tugas), melakukan chatting dengan job sheet (tugas).
|
|
Tidak
dapat menunjukkan hasil mengirim e-mail dan melakukan aktivitas chatting.
|
Terdapat
kesalahan >1 dalam menunjukkan hasil mengirim e-mail, melakukan aktivitas chatting.
|
Terdapat
1 kesalahan dalam Menunjukkan hasil mengirim e-mail, melakukan aktivitas chatting.
|
Tepat
dalam menunjukkan hasil mengirim e-mail, Melakukan aktivitas chatting.
|
|
Tabel 22. Contoh Pengolahan Nilai KDKeterampilan
Mata Pelajaran: Simulasi Digital
KD 4.2 Menyajikan
hasil penerapan pengelolaan informasi digitalmelalui komunikasi daring (online).
|
Aspek
|
Skor
|
Keterangan
|
|
Mengikuti komunikasi daring asinkron dan sinkron berdasarkan
contoh.
|
4
|
tuntas
|
|
Mendemonstrasikan
komunikasi daring asinkron dan
sinkron berdasarkan tugas
|
3
|
tuntas
|
|
Nilai KD – Keterampilan ditentukan berdasarkan skor optimum
(nilai tertinggi) dari aspek (indikator pencapaian kompetensi) yang dinilai
|
4
|
A
|
5. Laporan Pencapaian Kompetensi
a. Ranah
Sikap
Tabel 23. Pengolahan Penilaian Sikap
Mata Pelajaran :
Simulasi Digital
Semester : 1
|
No
|
Nama Siswa
|
Disiplin
|
Jujur
|
Tanggung Jawab
|
Santun
|
Nilai Mata Pelajaran
|
|
1.
|
Siswa A
|
3
|
3
|
3
|
4
|
3
|
|
2.
|
Siswa B
|
3
|
4
|
4
|
4
|
4
|
|
3.
|
Siswa C
|
3
|
3
|
3
|
2
|
3 (perlu pembinaan berkelanjutan untuk sikap)
|
b. Ranah
Pengetahuan
Tabel 24. Pengolahan Penilaian Pengetahuan
Mata Pelajaran :
Simulasi Digital
Semester :
1
Nama
Peserta Didik :
......................................
|
Nilai
|
Capaian
Kompetensi
|
Nilai
Akhir dan Predikat
|
|
|
KD 3.1
|
3,30
|
|
3.27
atau B+
|
|
KD 3.2
|
4,00
|
|
|
|
KD 3.3
|
2.90
|
|
|
|
Rerata KD
|
|
3.40
|
|
|
Ulangan tengah semester
|
|
3,50
|
|
|
Ulangan akhir semester
|
|
2,90
|
|
|
Nilai Pengetahuan*)
|
3.27
|
||
Keterangan:
*) Nilai
pengetahuan diperoleh dari rerata nilai KD, UTS, UAS yang bobotnya ditentukan
oleh satuan pendidikan berdasarkan kompleksitasnya.
c. Ranah
Keterampilan
Tabel 25. Pengolahan Penilaian Keterampilan
Nama Peserta
Didik : ...............................
|
Nilai
Optimum
|
Capaian
|
Nilai
Akhir dan Predikat)
|
|
KD 4.1
|
3,00
|
3.33
atau B+
|
|
KD 4.2
|
4,00
|
|
|
KD 4.3
|
3.00
|
|
|
Rerata
optimum Keterampilan*)
|
3.33
|
Keterangan:
*) Nilai
keterampilan diperoleh dari rerata nilai optimum (capaian tertinggi) dari setiap
KD keterampilanyang dipelajari dalam satu semester.
D. Latihan
Buatlah instrumen untuk melakukan pengukuran pada ranah sikap,
pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan rubrik penilaian skala 4.
No comments:
Post a Comment